Kamis, 10 Mei 2012

ANALISIS KEBIJAKAN KEUANGAN PERUSAHAAN


Manajemen Keuangan


A. Kebijakan Pembelanjaan
Kita perlu mengetahui dan memahami prinsip-prinsip pembelanjaan sebagai pedoman dan dasar untuk operasional perusahaan.
·Asas Liquiditas
asas yang mengajarkan bahwa dalam kebijakan financing penarikan sumber-sumber dana harus diperhatikan berapa lamanya dana yang akan diperoleh akan digunakan oleh perusahaan apabila dana tersebut akan digunakan selama 1 tahun, maka dana yang akan ditarik juga untuk jangka waktu kurang dan tidak lebih dari 1 tahun. dalam hal ini dikenal dengan MATURITY MATCHING PRINCIPLES, berdasarkan asas ini :
- Modal kerja variable dibelanjai dengan pinjaman jangka pendek
- Modal kerja permanen dibelanjai dengan Modal sendiri
- Modal aktiva tetap harus dibelanjai dengan hutang jangka panjang (kecuali tanah harus dengan Modal sendiri)
·Asas Solvabilitas
asas yang mengajarkan bahwa dalam memperoleh sumber dana harus diperhatikan faktor psikologi dari calon investor :
- Optimis, sebaiknya perusahaan mengeluarkan saham
- Pesimis, sebaiknya perusahaan mengeluarkan obligasi
·Asas Rentabilitas
asas yang mengajarkan bahwa dalam penarikan sumber-sumber dana harus memperhatikan konsekuensi kewajiban memberikan balas jasa dari perusahaan ke calon investor
·Asas Kekuasaan
asas yang mengajarkan bahwa dalam kebijakan financing harus memperhatikan kebijakan manajemen keuangan:
- bila manajemen tidak ingin dicampuri pihak luar, sebaiknya perusahaan mengeluarkan obligasi
- bila manajemen lebih banyak menghendaki campur tangan pihak luar maka dapat dikeluarkan saham 
Jenis-Jenis Pembelanjaan
a. Berdasarkan Aktivitas
   1. Pembelanjaan aktif, segala aktivitas yang dilakukan untuk menginvestasikan dana secara efektif dan efisien
   2. Pembelanjaan Pasif, segala aktivitas yang dilakukan untuk memperoleh sumber dana dengan cara yang mudah dan biaya minimal
- Pembelanjaan Kuantitatif, masalah penetuan besarnya modal yang ditarik
- Pembelanjaan Kualitatif, masalah penentuan jenis modal yang akan ditarik meliputi :
            *Standar Liquiditas-berapa lama modal akan ditarik
            *Standar Solvabilitas-macam modal apa yang kan ditarik
            *standar Rentabilitas-pendapatan yang akan dihasilkan dari modal yang ditarik
b. Berdasarkan Sumber Dana
   1. Pembelanjaan Intern, pembelanjaan yang sumber dananya dibentuk dari keuntungan yang dihasilkan oleh perusahaan sendiri.
   2. Pembelanjaan Ekstern, pembelanjaan yang sumber dananya berasal dari luar perusahaan, misalnya penjualan saham, obligasi, kredit bank, dsb.
c. Berdasarkan Kondisi
   1. Pembelanjaan Normal
   2. Pembelanjaan Berlebihan
   3. Pembelanjaan Yang Berkekurangan
   4. Pembelanjaan Parsial
   5. Pembelanjaan Total 
Contoh dari kebijakan belanja perusahaan PT Jasa Marga Tbk (JSMR) telah merealisasikan belanja modal (capex) 2010 sebesar 33,33% atau Rp800 miliar dari alokasi Rp2,4 triliun. Dana tersebut dialokasikan untuk pengembangan ruas tolbaru tahun ini. Sisa belanja modal perseroan sebesar Rp1,6 triliun siap dialokasikan untuk menuntaskan tujuh ruas tol baru. Total investasi ketujuh ruas tolbaru sekitar Rp12 triliun
B. Kebijakan Investasi
Berdasarkan teori ekonomi, investasi berarti pembelian (dan berarti juga produksi) dari kapital/modal barang-barang yang tidak dikonsumsi tetapi digunakan untuk produksi yang akan datang (barang produksi). Contoh termasuk membangun rel kereta api, atau suatu pabrik, pembukaan lahan, atau seseorang sekolah di universitas. Suatu pertambahan pada pendapatan akan mendorong investasi yang lebih besar, dimana tingkat bunga yang lebih tinggi akan menurunkan minat untuk investasi sebagaimana hal tersebut akan lebih mahal dibandingkan dengan meminjam uang. Walaupun jika suatu perusahaan lain memilih untuk menggunakan dananya sendiri untuk investasi, tingkat bunga menunjukkan suatu biaya kesempatan dari investasi dana tersebut daripada meminjamkan untuk mendapatkan bunga.
Produk-produk Investasi
Beberapa produk investasi dikenal sebagai efek atau surat berharga. Dimana definisi Efek adalah suatu instrumen bentuk kepemilikan yang dapat dipindah tangankan dalam bentuk surat berharga, saham atau obligasi, bukti hutang (Promissory Notes), bunga atau partisipasi dalam suatu perjanjian kolektif (Reksa dana), Hak untuk membeli suatu saham (Rights), Warrant untuk membeli saham pada masa mendatang atau instrumen yang dapat diperjual belikan.
Bentuk-bentuk investasi
·Investasi tanah diharapkan dengan bertambahnya populasi dan penggunaan tanah; harga tanah akan meningkat di masa depan.
·Investasi pendidikan dengan bertambahnya pengetahuan dan keahlian, diharapkan pencarian kerja dan pendapatan lebih besar.
·Investasi saham diharapkan perusahaan mendapatkan keuntungan dari hasil kerja atau penelitian.
Risiko investasi
Investasi selain juga dapat menambah penghasilan seseorang juga membawa risiko keuangan bilamana investasi tersebut gagal. Kegagalan investasi disebabkan oleh banyak hal, di antaranya adalah faktor keamanan (baik dari bencana alam atau diakibatkan faktor manusia), ketertiban hukum, dan lain-lain.
sebagai contoh untuk kebijakan investasi dalam suatu perusahaan PT Bakrie Telecom Tbk menggelontorkan investasi senilai US$110 juta sepanjang tahun ini, dengan sebagian besar di antaranya untuk membiayai pengembangan bisnis sambungan data dalam setahun ke depan. Direktur Utama Bakrie Telecom Anindya Bakrie mengatakan sebagian kecil belanja investasi tahun ini bersumber dari pinjaman senilai US$300 juta berdenominasi renminbi dari Industrial and Commercial Bank of China (ICBC). Hingga akhir tahun, perseroan menargetkan investasi senilai US$300 juta atau seitar Rp2,7 triliun, sebagian untuk memperluas jaringan telekomunikasi baik seluler maupun data. Dan contoh lain PT Alam Suetra Realty Tbk (ASRI) akan menginvestasikan dana sedikitnya Rp350 miliar untuk mengembangkan proyek kota mandiri baru di Pasar Kemis, Tangerang, Banten. Proyek tersebut bakal diluncurkan dan mulai dibangun pada 2011.

C. Kebijakan Dividen
Dividen adalah pembagian laba kepada pemegang saham berdasarkan banyaknya saham yang dimiliki. Pembagian ini akan mengurangi laba ditahan dan kas yang tersedia bagi perusahaan, tapi distribusi keuntungan kepada para pemilik memang adalah tujuan utama suatu bisnis. Dividen dapat dibagi menjadi tiga jenis:
·   Dividen tunai; metode paling umum untuk pembagian keuntungan. Dibayarkan dalam bentuk tunai dan dikenai pajak pada tahun pengeluarannya.
·    Dividen saham; cukup umum dilakukan dan dibayarkan dalam bentuk saham tambahan, biasanya dihitung berdasarkan proporsi terhadap jumlah saham yang dimiliki. Contohnya, setiap 100 saham yang dimiliki, dibagikan 5 saham tambahan.
·    Dividen properti; dibayarkan dalam bentuk aset. Pembagian dividen dengan cara ini jarang dilakukan.
·    Dividen interim; dibagikan sebelum tahun buku Perseroan berakhir.

Kebijakan Dividen dalam Praktik

Pada  praktiknya  perusahaan  cenderung  memberikan dividen  dengan  jumlah  yang  relatif  stabil atau  meningkat  secara  teratur.  Kebijakan ini kemungkinan besar disebabkan  oleh asumsi bahwa :

a.          Investor  melihat  keanaikan  dividen  sebagai  suatu  tanda  baik  bahwa  perusahaan  memiliki prospek cerah,  demikian  sebaliknya.  Hal  ini  membuat  perusahaan  lebih  senang  mengambil  jalan  aman  yaitu  tidak  menurunkan  pembayaran  dividen ,
b.         Investor  cenderung  lebih  menyukai  dividen  yang  tidak  berfluktuasi  ( dividen  yang  stabil ).
Menjaga  kestabilan  dividen  tidak  berarti  menjaga  Dividend  Payout  Ratio tetap  stabil  karena  jumlah  nominal  dividen  juga tergantung  pada  penghasilan bersih  perusahaan  ( EAT ).  Jika  DPR  dijaga  kestabilannya,  misalnya  ditetapkan  sebesar  50 %  dari  waktu  ke  waktu,  tetapi  EAT  berfluktuasi,  maka  pembayaran  dividen  juga  akan  berfluktuasi
Pada  umumnya  perusahaan  akan  menaikkan  dividen  hingga  suatu tingkatan  dimana  mereka  yakin  dapat  mempertahankannya  diveden  masa  mendatang.  Artinya  jika terjadi  kondisi  yang  terburuk  sekalipun,  perusahaan  masih  dapat  mempertahankan  pembayaran  dividen – nya.
Pada prakteknya  ada perusahaan  yang  menggunakan  model  “ residual  dividend    dimana  dividen  ditentukan  dengan  cara :
1.         Mempertimbangkan  kesempat  investasi  perusahaan ;
2.         Mempertimbangkan  target  struktur  modal  perusahaan  untuk  menentukan  besarnya  modal  sendiri  yang  dibutuhkan  untuk  investasi.
3.         Memanfaatkan  laba  ditahan  untuk  memenuhi  kebutuhan  akan  modal  sendiri  tersebut  semaksimal  mungkin
4.         Membayar  dividen  hanya  jika  ada  sisa  laba.
Dengan  demikian,  besarnya  dividen  bersifat  fluktuatif.  Model  “ Residual  Dividend    ini  berkembang  karena  perusahaan  lebih  senang  menggunakan  laba ditahan  dari  pada  menerbitkan  saham  baru  untuk  memenuhi  kebutuhan  modal  sendiri,  alasannya (1).  Menerbitkan  saham  menimbulkan  biaya  emisi  saham  ( flotation cost ) dan (2).  Menruut  teori    signaling  hypothesis    penerbitan  saham  baru  sering    salah  artikan  oleh investor  bahwa  perusahaan  kesulitan  keuangan  sehingga  menyebabkan penurunan  harga  saham.
Model  “ Residual  dividend    men;yebabkan  dividen  bervariasi  jika  kesempatan  investasi  perusahaan  juga  bervariasi  ( fluktuasi ), Model ini  lebih  banyak  digunakan  sebagai  penuntun  untuk  menetapkan sasaran  payout  ratio  jangka  panjang  yang  memungkinkan perusahaan  memenuhi  kebutuhan  akan  modal  sendiri  dengan  laba  ditahan. Pada  praktiknya,  ada  beberapa  faktor  lain  yang  mempengaruhi manajemen  dalam  menentukan kebijakan  dividen , antara lain:
1.         Perjanjian  Hutang ,  pada  umumnya  perjanjian  hutang  antara  paerush  dengan  kreditor  membatasi  pembayaran  dividen.  Misalnya,  dividen  hanya  dapat  diberikan  jika  kewajiban  hutang  telah  dipenuhi  perusahaan  dan  atau  rasio – rasio  keuangan  menunjukkan  bank  dalam  kondisi  sehat.
2.         Pembatasan  dari  saham  Preferen ,  tidak  ada  pembayaran dividen  untuk  saham  biasa  jika  dividen  saham preferan  belum  dibayar.
3.         Tersedianya  Kas,  Dividen  berupa  uang  tunai  ( cash dividend )  hanya  dapat  dibayar  jika  tersedianya  uang  tuani  yang  cukup.  Jika  likuiditas  baik,  perusahaan  dapat  membayar  dividen.
4.         Pengendalian ,  Jika  manajemen  ingin  mempertahankan  kontrol  terhadap  perusahaan,  ia  cenderung  untuk  segan  menjual  saham  baru  sehingga  lebih  suka  menahan  laba  guna  memenuhi  kebutuhan dana / baru.  Akibatkanya  dividen  yang  dibayar  menjadi  kecil.  Faktor  ini  menjadi  penting  pada  perusahaan  yang  relatif  keci.
5.         Kebutuhan  dana  untuk  Investasi ,  Perusahaan  yang  berkembang  selalu  membutuhkan dana  baru  untuk diinvestasikan  pada  proyek – proyek  yang  menguntungkan.  Sumber  dana  baru  yang  merupakan  modal  sendiri ( equity )  dapat  berupa  penjualan  sham  baru  dan  laba  ditahan.  Manajemen cenderung  memanfaatkan  laba  ditahan  karena  penjualan  saham  baru  menimbulkan  biaya  peluncuran  saham  ( flotation  cost )  .  Oleh  karena  itu  semakin  besar  kebutuhan  dana  investasi,  semakin  kecil  dividen  payout  ratio.
6.         Fluktuasi  Laba,  Jika  laba  perusahaan  dapat  membagikan  dividen  yang  relatif  besar  tanpa takut  harus  menurunkan dividen  jika  laba  tiba – tiba  merosot.  Sebaliknya  jika  laba  perusahaan  berfluktuasi,  dividen  sebaiknya  kecil  agar  kestabilannya  terjaga.  Selain  itu,  perusahaan  dengan  laba  yang  berfluktuasi  sebaiknya  tidak banyak  menggunakan  hutang  guna  mengurangi  risiko  kebangkrutan.  Konsekuensinya  laba ditahan  menjadi  besar  dan  dividen  mengecil.
Contoh untuk kebijakan dividen PT Bumi Resources Tbk (BUMI) mengaku telah melakukan pembayaran dividen sebesar Rp27,68 per saham atau total nilai sekira USD57 juta. Direktur dan Corporate Secretary BUMI Dileep Srivastava menuturkan jumlah dividen yang dibayarkan sama dengan 30 persen dari total pendapatan perusahaan senilai USD190,45 juta, seperti yang telah diumumkan dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada tanggal 24 Juni 2010 lalu. BUMI saat ini mengedepankan strategi pengurangan beban utang (deleveraging) sebesar USD800 juta-USD1 miliar dalam satu tahun ke depan sambil mengintegrasikan dan memaksimalisasi nilai dari aset non-batu bara yang telah diakuisisi perseroan ke dalam kinerja konsolidasi perseroan.


Daftar Referensi:











Tidak ada komentar:

Poskan Komentar